Makan Lakse Massal di Karimun Masuk MURI

id Makan,Lakse,Massal,Karimun,MURI,museum,rekor,dunia,indonesia

Bupati Karimun Aunur Rafiq (kanan) dan Wakil Bupati Anwar Hasyim makan mi lakse bersama ribuan warga dalam rangkaian kegiatan memeriahkan HUT Kabupaten Karimun ke-18 di Coastal Area, Tanjung Balai Karimun, Sabtu (14/10). (antarakepri.com/Nursali)

Karimun (Antara Kepri) - Makan laksa, sejenis mi terbuat dari sagu, digelar secara massal di pelataran panggung Putri Kemuning, Coastal Area, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Sabtu, masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Makan lakse secara massal yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karimun sebanyak 1.800 mangkok merupakan rangkaian kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-18 Kabupaten Karimun, 12 Oktober 2017.

"Alhamdulillah, makan lakse memecahkan rekor MURI. Mi lakse merupakan makanan khas Karimun, salah satu kuliner masyarakat Melayu," kata Bupati Karimun Aunur Rafiq yang turut serta makan mi lakse bersama Wakil Bupati Anwar Hasyim, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan para pejabat daerah setempat.

Makan lakse massal itu dimulai, setelah pelepasan peserta pawai pembangunan dan Kirab Budaya Nusantara yang juga bagian dari kegiatan memeriahkan HUT Kabupaten Karimun.

Panitia membagikan satu per satu mangkok terbuat dari plastik berisi mi lakse kepada warga masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.

"Mari sama-sama kita makan lakse," kata Aunur Rafiq mengajak warga untuk menikmati kuliner berbahan baku sagu tersebut.

Menurut Bupati, makan mi lakse massal dengan jumlah 1.800 mangkok sengaja dilakukan, menandakan 18 tahun Kabupaten Karimun.

Kegiatan tersebut sengaja didaftarkan ke Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai upaya untuk menjadikan lakse sebagai kuliner khas Karimun, dan terdaftar dalam menu kuliner Nusantara.

"Makan mi lakse sebanyak 1.800 mangkok bertujuan untuk memperkenalkan kepada wisatawan dalam maupun luar negeri. Kita berharap lakse menjadi daya tarik dalam meningkatkan kunjungan wisatawan," kata dia lagi.

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karimun Zamri menjelaskan, mi lakse merupakan makanan khas masyarakat Melayu. Di daerah lain yang merupakan komunitas Melayu juga mengenal mi lakse sebagai makanan pengganti nasi.

"Karimun sebagai daerah Melayu sudah lama mengenal lakse. Bahan bakunya yaitu sagu banyak ditanam masyarakat seperti di Pulau Kundur," kata dia.

Zamri juga mengatakan, makan mi lakse sebanyak 1.800 mangkok sengaja dimasukkan dalam rekor MURI agar lebih dikenal dan menjadi kuliner khas Karimun yang dikenal kalangan wisatawan.

Warga terlihat antusias makan lakse yang dibagi-bagikan panitia. Salah seorang warga Nurhayati mengatakan, lakse cukup dikenal namun masih belum banyak dijual di pasaran.

"Kalau bisa, pasar lakse diperluas, jangan hanya di kedai-kedai, tapi sampai ke swalayan. Selama ini, lakse hanya ditemukan pada gerai-gerai tertentu," kata dia lagi. (Antara)

Editor: Budisantoso Budiman
Pewarta :
Editor: Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar