Rabu, 23 Agustus 2017

Fraksi Nasdem DPR Dukung Sultan Mahmud Pahlawan Nasional

id Fraksi,Nasdem,DPR,Dukung,Sultan,Mahmud,Pahlawan,Nasional
Fraksi Nasdem DPR Dukung Sultan Mahmud Pahlawan Nasional
Drs Nyat Kadir, anggota Komisi VI DPR RI dari fraksi Nasdem bersama pakar sejarah dan budayawan melayu, membuka diskusi napak tilas sang Grilya Laut, Sultan Mahmud Riayat Syah III, di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (15/6). (Antarakepri/Ardhi)
Saya kira tidak banyak pejuang di nusantara ini yang memiliki strategi grilya laut seperti beliau. Inilah saatnya pemerintah hargai pahlawan yang berjuang ratusan tahun lalu, apalagi pada saat sekarang visi pemerintah ingin angkat wilayah kemaritiman
Jakarta (Antara Kepri) - Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di DPR RI memberi dukungan terhadap Provinsi Kepulauan Riau, atas usulan pemberian gelar Sultan Mahmud Riayat Syah III menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Fraksi Nasdem melalui inisiasi salah seorang anggota komisi VI DPR RI, Nyat Kadir di Jakarta, Kamis (15/6), menghadirkan pemerintah daerah setempat dan pakar sejarah serta budayawan melayu, dalam sebuah diskusi khusus tentang kepahlawan Sultan Riau-Lingga itu.

"Kami melihat masyarakat Kepri, khususnya Kabupaten Lingga, merasa Sultan ini layak diberi gelar pahlawan nasional. Karena itu Sultan ini kita perjuangkan," kata Nyat Kadir saat membuka diskusi.

Secara Pribadi, Nyat Kadir melihat sosok kepahlawanan Sultan Mahmud dari berbagai dimensi, terutama soal kegemilangannya menerapkan strategi menghalau Belanda dengan grilya laut.

Beliau juga dinilai konsisten menjaga setiap jengkal wilayah kedaulatan kesultanan Riau-Lingga-Johor-pahang yang saat itu sudah menjadi pintu utama perdagangan wilayah barat dan timur dunia.

"Saya kira tidak banyak pejuang di nusantara ini yang memiliki strategi grilya laut seperti beliau. Inilah saatnya pemerintah hargai pahlawan yang berjuang ratusan tahun lalu, apalagi pada saat sekarang visi pemerintah ingin angkat wilayah kemaritiman sebagai potensi Indonesia," ungkapnya.

Salah satu bukti sejarah, dia menyebutkan, pada tahun 1787 saat Belanda menduduki Ibukota kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang sekarang disebut Tanjung Pinang, Sultan Mahmud dengan bantuan persenjataan armada laut dari Raja Sabah hampir 90 kapal dengan 9.000 tentara berhasil mengusir Belanda.

Strategi mempertahankan ibukota pemerintahan dengan memindahkannya ke Pulau Lingga, dengan membuat istana baru, membangun pertahanan yang kuat di wilayah tersebut, lanjut Nyat Kadir, semakin membuat Belanda tak mampu ataupun berani masuk ke Lingga.

"Ini visioner sekali. Gubernur VOC di Batavia dan Malaka akhirnya mengakui kedaulatan Riau-Lingga. Bahkan, akhir dari perlawanan Sultan Mahmud itu Happy Ending (bahagia), jarang sekali 'kan sejarah perjuagan kemerdekaan seperti itu," ungkapnya.

Sebelumnya, pada tahun 2013, pemerintah daerah telah mengajukan usul pemberian gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Sultan Mahmud Riayat Syah. Namun saat itu tim peneliti yang salah satunya terdiri dari Kementerian Sosial (Kemensos) menyebut dokumen-dokumen yang dibutuhkan belum lengkap.

"Sekarang dokumennya lengkap, harapan kita pemerintah jangan ragu-ragu berikan gelar pahlawan ini," ucapnya.

Turut menjadi narasumber dalam diskusi tersebut, pakar budaya melayu Kepulauan Riau sekaligus Ketua TP2GD Prov Kepri, Dr Abdul Malik MPd, akademisi sekaligus mantan ketua masyarakat sejarawan Indonesia, Dr Mukhlis Paeni, sejarawan sekaligus dosen di Fakultas Sejarah UI, Dr Didik Prayogo, dan tokoh masyarakat Kepri sekaligus Dosen di Fakultas Pendidikan UMRAH, Said Barakbah. (Antara)

Editor: Evy R Syamsir

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga