Jumat, 20 Oktober 2017

Keluarga Chipsley Akan Belajar Bahasa Indonesia

id Keluarga,Chipsley,Belajar,Bahasa,Indonesia,snow,city,singapura,rekreasi,wisata,edukatif
Keluarga Chipsley Akan Belajar Bahasa Indonesia
Boneka Chipsley menjadi maskot Snow City Singapore, Chipsley sekeluarga bersama timnya akan ke Batam, belajar bahasa, dan budaya Indonesia, membawa pesan cinta antarbangsa. (antarakepri.com/A Jo Seng Bie)
Kami ingin menyebarkan pesan bahwa semua orang harus mencintai sesama dan memahami budaya dari negara lain. Kami membuat Chipsley sebagai karakter utama untuk melakukan hal ini
SNOW City di Jurong East, Singapura, sejak didirikan 17 tahun silam hingga kini konsisten dikelola sebagai pusat rekreasi-edukatif yang mengusung tema penyadaran tentang perubahan iklim, dan upaya bersama bagi penyelamatan Bumi dari ancaman bencana pemanasan global.

Wahana salju dalam gedung satu-satunya di Negeri Singa itu, berada sederet dengan gedung Science Centre Singapore, yang kerap kali memamerkan fosil hewan purba, robot interaktif, hingga teknologi canggih persenjataan. Lokasinya bersebelahan dengan gedung kubah Omni Theatre, tempat pemutaran film-film tiga dimensi dengan tema serupa, yaitu sains masa lalu, kini dan mendatang.

Kehidupan manusia, hewan dan alam Kutub Utara menjadi tema sentral Snow City Singapore. Sementara, para pengunjung dapat berseluncur dengan ban, berlatih snow boarding, ski, atau sekadar merasakan hujan badai salju.

Bagi rombongan kanak-kanak, tersedia pendongeng tentang suku bangsa Inuit, nama lain dari Eskimo, dan kisah kasih maskot karakter hewan penghuni benua es.

"Kami bukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau Badan Lingkungan Hidup Internasional.  Kami hanya berusaha menyebarluaskan pesan sederhana, terutama kepada kanak-kanak untuk mulai berbuat sesuatu guna mengurangi penyebab pemanasan global, sekecil apapun," kata General Manager Snow City Norazani Shaiddin, di Singapura, 26 Mei 2017.

Saban tahun, berkenaan dengan musim ramai kunjungan turis mancanegara, Snow City mengganti maskot pembawa pesan penting bagi umat manusia menyelamatkan Kutub Utara supaya bongkahan es di benua itu tidak meleleh secara masif, yang bisa berakibat menenggelamkan lembah dan pantai rendah di berbagai penjuru dunia.

Menyongsong liburan panjang perayaan Idul Fitri 2017, Snow City menggandeng keluarga Chipsley sebagai maskot untuk turis. Karakter  bapak (Chispley), ibu (Khippy), anak jantan (Dappy), dan Pinko(balita betina). Keluarga singa laut "imut-imut" itu dikisahkan sedang mencari rumah baru sebab tempat mereka di Kutub Utara terdampak peningkatan suhu  gobal.

Bagi Anda pengguna media sosial Line, keluarga Chipsley bukan sesuatu yang baru sebagai stiker pergaulan. Namun, kini ada kabar bahwa maskot Chipsley akan bermuhibah ke beberapa negara Asia mulai November tahun ini, antara lain ke Indonesia melalui Batam, Kepulauan Riau.

Benny Tay, warga Singapura pencipta Chipsley, menjelaskan karakter keluarga keluarga singa laut itu dipakai sebagai sarana untuk mempromosikan "cinta". Cinta dalam keluarga antara ibu, bapak, bayi, dan anak-anak,  "cinta"  orang terhadap sesama dengan memahami bahasa dan budaya antarbangsa.

Ketika mengunjungi negara lain, misalnya ke Indonesia, Chipsley  akan belajar budaya, bahasa, mencicipi makanan lokal. Chipsley juga berencana untuk mengunjungi destinasi wisata, berteman dengan warga lokal untuk mengetahui lebih mendalam tentang keindonesiaan.

Benny mengemukakan, "Kami ingin menyebarkan pesan bahwa semua orang harus mencintai sesama dan memahami budaya dari negara lain. Kami membuat Chipsley sebagai karakter utama untuk melakukan hal ini."

Rekan Benny, Weijin Ho mengatakan bahwa Chipsley (s) Pte Ltd,  sedang bernegosiasi dengan pengusaha kafe di Batam untuk bekerja sama. "Setelah Batam, Chipsley akan ke Jakarta, dan ke berbagai kota di Indonesia," katanya.

Chipsley menjadi maskot andalan Snow City dalam  menyambut libur panjang Idul Fitri 2017. Pengelola wahana rekreasi itu mulai 29 Mei hingga akhir Juni juga menyediakan satu tiket gratis untuk seorang anak  dari setiap pemegang paspor Indonesia yang membeli dua tiket dewasa masing-masing seharga 18 dolar Singapura.

Adapun Science Centre menjagokan Dino Robot Factory, pameran fosil gigi, telapak dan kaki Dinosaurus yang didatangkan dari Jepang. Kanak-kanak bisa membongkar pasang robot binatang purba, atau bertindak macam seperti paleantologis -- mengorek-ngorek pasir untuk menemukan tulang belulang dan telur binatang purba di bawah kerangka Tyrex.

Di gedung sebelah Science Centre, Omni Theatre dengan  layar kubah menyuguhkan film tiga dimensi berjudul "Robots", tentang teknologi pembuatan 12 robot mirip manusia.

"Spektrum pendidikan itu luas," kata Norazani, yang sudah 14 tahun mengelola Snow City.

Melalui informasi mengenai 10 cara sederhana, pengunjung, terutama kanak-kanak  di tempat rekreasi-edukatif itu bisa memperoleh ruang penyadaran tentang fenomena perubahan iklim sehingga secara dini berperan serta mengurangi pemanasan global.

Dengan berkunjung ke pameran sains, atau menonton film bertema robot, kanak-kanak diharapkan tertarik menekuni teknologi, dan kelak, misalnya, menciptakan robot untuk berbagai kepentingan kehidupan, dan kemanusiaan. (Antara)

Editor: Rusdianto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga