Senin, 23 Oktober 2017

Pengabdian Bidan Arikha Di Wilayah Terisolir

id Bidan Arikha, kampung segeram kelurahan sedanau, natuna, daerah terisolir, teluar, terdepan, kesehatan
Arikha, Kelahiran Medan 31 Tahun yang lalu mengabdikan dirinya sebagai Bidan di Posko Kesehatan Terpadu ( Postu ) Kampung Segeram daerah terpencil, terluar, terisolir yang berada di wilayah administrasi Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bubguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepualuan Riau.

Arikha bertugas di postu Kampung Segeram sejak tahun 2014 setelah Ia lulus mengikuti tes tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. Diakui Arikha sejak berdiri Postu tahun 2012 s/d 2014 tidak ada yang menempati.

Penugasan dirinya di tempat terpencil tersebut dijalani dengan pasilitas dan obat serba terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan obat terpaksa Arikha membelinya sendiri obat dari luar.

" Dua tahun postu ini tidak ditempati, karena tidak ada yang mau bertugas di sini, saya bersedia dan betah bertugas di sini karena janji pada saat lulus tes pegawai, harus bersedia ditempatkan dimana saja, itu yang harus saya tepati, " Ucapanya.

Selama bertugas sebagai Bidan di postu Segeram, Arikha melihat kendala yang dihadapi diantaranya Transportasi, karena untuk merujuk pasien tidak ada akses jalan darat, Listrik, Sinyal dan jaringan internet belum tersedia.

Untuk penanganan ibu hamil juga mendapat kendala, khususnya pada saat persalinan. Proses persalinan warga Kampung Segeram tidak terlepas dengan bidan kampung.

" Saya bermitra kerja dengan bidan kampung, cara tradisional kami juga lakukan, karena itu saya akan selalu khawatir jika ada ibu yang sudah mendekati masa bersalin, setiap hari saya harus ke rumah yang bersangkutan untuk memastikan kondisi baik - baik saja, hal yang paling saya takutkan jika terjadi sesuatu, pasien harus di rujuk, sementara disini terbatas, kalau pun ada itu tidak menjamin keselamatan penumpangnya, belum lagi jika cuaca ekstrim, ". Ungkasnya.

Kebutuhan hidup sehat Kampung segeram juga perlu mendapat perhatian pemerintah, Arikha mengatakan warga Segeram meskipun tinggal di tanah subur tetapi kerisis sayur - sayuran dan banyak para bayi Kampung Segeram kekurang gizi.

" Warganya kurang mengkonsumsi sayur, dulunya saya pikir tanah disini tidak subur, ternyata kebun mereka tidak akan bertahan lama karena hama, Babi hutan banyak disini, sehingga warga enggan bercocok tanam, " Kata dia.

Perjuangan Arikha ternyata tidak mudah, disamping mengeluhkan tunjangan dan insentif belum juga dibayarkan sejak Januari hingga sekarang, Ia juga tidak segan menceritakan kehidupan pribadinya.

" Karena tugas di sini saya harus pisah dengan suami, sedangkan 2 orang anak saya saat ini tinggal bersama orang tua di medan, tetapi demi tugas saya harus tetap semangat, " Kata dia

Tidak hanya kekurangan obat dan sulitnya tranportasi, Arikha juga menunjukan kondisi postu yang baru dibangun 2 tahun lalu terancam ambruk, karena tanah pondasi ambelas.

" Saya tidak lagi tinggal di postu, karena sekarang saya telah ada orang tua angkat, dulunya saya tinggal di situ, tetapi tidak bisa tidur entah kenapa, dari malam hingga pagi begitu seterusnya selama satu minggu, sejak itu saya putuskan untuk menginap di rumah warga yang saat ini telah menjadi orang tua angkat, tidak ada saudara, tidak punya siapa - siapanya saya di Natuna, " ucapnya.

Arikha yang sebelumnya pernah bekerja di salah satu Rumah Sakit Swata kota Batam tersebut, mengaku merasa damai bertugas di Segeram disamping keramahan warga setempat suasana Segeram juga tentram karena jauh dari hiruk pikuk Kota.

Ia juga menggambarkan kondisi pola hidup masyarakat Kampung Segeram berdasarkan pengamatanya selama ini.

Lansia Kampung Segeram berjumlah 27 orang dari 29 KK, sebenarnya 30 KK, satu diantaranya sudah tidak menetap lagi di Segeram, kata Arikha, jumlah penduduk kurang lebih 88 orang, balita 13 orang, penyakit yang sering timbul adalah Ispa.

Tidak hanya menyangkut kepentingan dirinya, Arikha juga menilai demi kepentingan yang lebih besar melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa ( TMMD ) Ke 98 telah membuka akses jalan, hal itu akan jauh memudahkan Ia dalam menjalankan tugas khususnya jika ada pasien yang akan di rujuk, karena nanti bisa menggunakan ambulance langsung menuju RSUD, tidak lagi menggunakan pompong nelayan seperti biasa yang sering ia lakukan selama ini.

Liza salah satu wanita hamil Kampung Segeram mengatakan kehamilan ke duanya ini sudah sedikit tenang dengan adanya Bidan Arikha, tidak seperti kehamilannya yang pertama hanya berharap kepada bidan kampung,

Cerita liza anak pertamanya meninggal pada usia 3 bulan karena pada saat itu tahun 2005 belum ada tebaga bidan.

" Orang bilang bayi saya sakit Kampung atau denam panas, karena keterbatasan, saya juga tidak bisa berbuat banyak, akhirnya meninggal di usia 3 bulan, " kata Liza.

Liza saat ini telah hamil 7 bulan mangaku sudah tidak begitu khawatir dengan kondisi persalinan nantinya, karena Bidan Arikha selalu ada mendampingi dirinya, Ia juga merasa gembira karena program TMMD sebentar lagi akan selesai membuka akses jalan dari Kelarik menuju Segeram.

" Mudah - mudahan jalan itu cepat selesai, jika terjadi sesuatu kami bisa cepat meminta bantuan ke Puskesmas terdekat yaitu Puskesmas kelarik, tetapi mudah - mudahan lah kehamilan saya kali ini tidak ada kendala, " Kata dia penuh harap. ( Antara )







Editor : Rusdianto


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga