Jumat, 20 Oktober 2017

Pengusaha Tambang itu Kini Sukses Beternak Sapi

id Pengusaha Tambang itu Kini Sukses Beternak Sapi
Pengusaha Tambang itu Kini Sukses Beternak Sapi
Farada Harahap sedang memberi makan sapi-sapi di peternakannya (Aji Anugraha)
Pertama kali saya bekerja sebagai kontraktor, pengusaha tambang batu bauksit, dari hasil kerja saya kumpulkan uang untuk membeli tanah, dan sedikit demi sedikit saya gunakan untuk berkebun
SIAPA yang menyangka seorang pengusaha tambang bauksit yang dekat dengan kekuasaan, uang dan kemewahan, tidak malu mengurus sapi. Jangan heran pula, pengusaha yang biasanya duduk manis menghitung keuntungan dari penjualan batu bauksit, kini mengumpulkan rumput untuk dimakan sapi.

Alih profesi itu bukan keterpaksaan, melainkan impian yang dikabulkan Tuhan. Dimulai dari hobi.

Adalah Farada Harahap, mantan pengusaha bauksit yang namanya sempat berkibar, kini menjadi peternak. Dunia mewah yang dirasakan saat tambang bauksit masih beroperasi telah ditinggalkan. Bahkan sekarang ia harus berada di dekat kandang sapi. 

Dijumpai disela-sela waktunya, Kamis siang (20/4) itu, ia memulai cerita mengapa menjadi peternak sapi di Kota Gurindam. Ia mengatakan hobi mengantarnya untuk beternak sapi. 

Saat memiliki cukup uang, ia sisihkan untuk membeli sebidang tanah yang dapat dimanfaatkan untuk berkebun, berternak hingga mempekerjakan orang lain.

"Ada pesan dari petuah bernama Abu. Dulu dia menjabat sebagai lurah di Tanjungpinang, yang berpesan kepada saya, jangan biarkan masyarakat terlena dengan bantuan-bantuan, sehingga malas. Berusahalah untuk mandiri, berdiri di kaki sendiri dan dapat berguna untuk orang banyak," kata Farada saat dijumpai Antara tengah santai bersama beberapa rekan sejawatnya.

Tahun 2013, pertambangan bauksit di seluruh Indonesia. Beruntung, ia sudah menginvestasi uangnya dalam bentuk usaha peternakan. Investasi sebesar Rp3 miliar untuk membeli tanah dan beberapa ekor sapi.

"Pertama kali saya bekerja sebagai kontraktor, pengusaha tambang batu bauksit, dari hasil kerja saya kumpulkan uang untuk membeli tanah, dan sedikit demi sedikit saya gunakan untuk berkebun," katanya.

Pada tahun pertama perusahaan tutup, Farada telah beternak 30 ekor sapi, 25 diantaranya sapi tersebut merupakan induk sapi yang di ternak pada lokasi peternakan seluas 6 hektar dikawasan Tanjung Moco, Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari. Hampir semua kariawan yang dulu bekerja di perusahaan pertambangan kini bekerja di peternakannya.

Sembari menyeruput secangkir kopi, Farada kembali bercerita mengenai peternakannya, ayah dari tiga anak ini menghabiskan waktu untuk mengembangkan peternakannya. Ia kembali memperluas peternakannya dengan membeli beberapa hektar tanah lagi, menurut analisanya, peternakan sapi butuh lahan yang luas, untuk area bermain sapi, tepatnya hamparan padang rumput hijau.

"Saya kemudian beli tanah lagi di Sungai Jati, Wacopek, perbatasan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, disana ada peternakan sapi, luasnya 8 hektar, itu punya saya," kata Farada saat mengajak Antara mengunjungi lokasi peternakan.

Di lokasi peternakan, ia menjelaskan, untuk membangun peternakan sapi pengusaha diawajibkan untuk berani rugi pembiayaan pangan ternak. Selama kurang lebih 3 tahun. Hal itu dikarenakan kebutuhan pangan ternak lebih tinggi untuk menghasilkan ternak yang berkualitas dalam kurun waktu tertentu.

"Untuk memulai beternak, peternak harus berani rugi, membesarkan anak sapi yang sudah lahir dengan memeberi makan lebih banyak dari biasanya, tentu pengeluaran lebih tinggi," ujarnya.

Dalam satu bulan, Farada mengeluarkan biaya sapi mencapai Rp.300 ribu perekornya. Hampir 7 tahun Farada beternak, saat  ini ada 176 ekor sapi di empat peternakan yang dimilikinya. Semua itu, kata dia berkat kemandirian dan keseriusan dan niat dalam menjalankan usaha.

Proses peternakan sapi ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh kesabaran dalam menjalankannya. Untuk menghasilkan sapi gemuk atau biasa disebut konsentrak (Penggemukan sapi).

Untuk proses konsentrak sapi diberi asupan makanan dedak padi dicampur air rebusan kedelai untuk tempe, dan ampas tahu. Untuk mendapatkan konsentrak, Farada bekerjasama dengan beberapa perusahan pabrik kedelai.

"Satu bulan untuk pengeluaran Rp500 ribu, bekerjasama dengan 3 perusahaan tahu di Bintan-Tanjungpinang," katanya.

Alhasil sapi di peternakannya tumbuh sehat dan besar. Namun jika sakit, dia sudah berkoordinasi dengan dokter hewan yang disediakan oleh Dinas terkait.

Kondisi ternak saat sakit sudah dipelajari para kariawannya, meskipun belajar secara mandiri, para kariawannya juga memahami dan belajar dari para dokter saat melihat kondisi ternak.

"Ada dokter hewan yang datang 3 kali dalam seminggu, mereka melihat ternak dan mengechek kesehatannya," ujar Wahyudi, salah satu kariawan terlama yang bekerja dipeternakan Farada.

Farada menjual sapi hanya pada perayaan hari raya kurban. Rata-rata sapi yang dijual usia 2 tahun dengan harga Rp17 juta hingga Rp20 juta per satu ekor sapi.

"Sapi saya hanya dijual hari raya haji saja, untuk pedagang pasar tidak, kalau hari raya rata-rata 50 ekor sekali terjual," ujarnya.

Upaya Farada membangun peternakannya membuahkan hasil hingga dapat menyekelohkan anak-anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi. "Tahun ini anak saya yang paling besar masuk perguruan tinggi," katanya

Farada memiliki seorang istri bernama  Dariati (40) dan tiga orang anak, anak pertamanya bernama Karina, saat ini ia duduk dibangu kelas 3 SMA, Muhammad Kawarazmi di bangku SMP, dan Putri Estimasik duduk di bangku kelas 1 SD.

Wajah sumringah Farada terpancarkan saat menjelaskan nama anak terkahirnya, Putri Estimasik, ia anak terkahir putri yang dilahirkan di Rumah Sakit Singapura. "Makanya namanya ada Estimasik, diambil dari nama singapura dulu," katanya sembari tersenyum.

Ada rencana yang masih belum dicapai oleh Farada, yakni membangun Pondok Pesantren dilahan seluas 40 hektar yang rencana akan dibelinya dalam waktu dekat ini, untuk menambah luas hamparan terbuka tempat sapi bermain.

"Niat saya sisakan 2 hektar, Nanti para santri selain giat belajar juga dapat membantu  produksi makanan seperti, dendeng balado, pasti berguna," ujarnya.


Tanpa Bantuan Pemerintah
Sejak awal Farada Harahap berprinsip tidak menerima bantuan dari pemerintah, bukan berarti sombong. Namun baginya dia masih mampu mempekerjakan kariawan dan mengelola sendiri ternaknya.

Menurutnya, langkah pemerintah dalam memberikan bantuan pada peternak dirasa sudah tepat, namun lebih tepat jika pemerintah memberikan bantuan sekaligus dengan sosialisasi.

"Memberikan bantuan sudah tepat pada sasarannya, namun pemerintah harus melihat lagi bagaimana cara pemanfaatan ternak yang tepat, penggunaan lahan dan ketersedian lahan ternak. Jadi yang dibantu berguna," ujarnya.

Dia mengatakan selama mendirikan peternakan sapi, tidak ada satupun aparat pemerintah daerah setempat menyambanginya.

"Tidak ada yang datang untuk berkonsultasi, bahkan ternak saya dijadikan uji coba kawin suntik banyak yang sakit kemudian mati, tapi ya mau bagai mana lagi. Kalau diberikan kesempatan saya bisa menjelaskan bagaimana mengelola dengan tepat peternakan sapi," ungkapnya.

Kepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan, Wirdanaf membenarkan Farada tidak termasuk dalam kelompok peternak yang mendapatkan bantuan dari pemerintah.

"Kalau pak Harahap bagian juga termasuk sebagai peternak Tanjungpinang, bantuan ke beliau memang tidak ada, dari sekian kategori pak Haraap termasuk peternak besar dan sudah mandiri sudah melakukan permodalan yang kuat, bantuan kami adalah pengobatan." ungkapnya.

DP3 setempat sudah membentuk beberapa klompok peternak, diantaranya Kelompok Makmur, Suka Maju dan Mugi Lancar.

"Ketiga kelompok yang mendapatkan bantuan ternak sudah berkembang dan usahanya lancar, bahkan ada yang sampai menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi," katanya.

Peternak dan pengusaha sapi di Tanjungpinang sudah mendapatkan bantuan 54 sapi dari dana APBN pada tahun 2015 untuk 3 kelompok ternak, dan dibantu lagi dari dan APBD tahun 2013. Sementara untuk tahun ini tidak ada.(Antara)


Editor: Niko

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga