Kamis, 19 Oktober 2017

Demam Jalur Sutera Laut Melanda Tiongkok

id Demam,Jalur,Sutera,Laut,Melanda,tol,Tiongkok,Made,Tinggal,Karyawan,Laurensius,Molan
Demam Jalur Sutera Laut Melanda Tiongkok
Ketua Delegasi Jurnalis Indonesia, I Made Tinggal Karyawan saat diwawancarai televisi Tiongkok terkait respon media massa terhadap jalur sutera abad ke-21 di Hai Kou, Hainan. (antarakepri.com/Foto Istimewa Lee Meng)
Ini prakarsa baru pemerintah Tiongkok yang sangat penting untuk masa depan kawasan, terutama bagi Indonesia sebagai negara tetangga terdekat sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia yang dikelilingi lautan yang luas
Beijing (Antara Kepri) - Demam pembukaan jalur sutera laut (Marine Silk Road)  abad ke-21 yang dicetuskan Presiden Tiongkok Xi Jinping menjadi isu terhangat yang menjangkiti media massa dan para pemimpin Tiongkok, saat berdiskusi dengan delegasi jurnalis Indonesia asal Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 26 sampai 1 Juni 2015.

Kalangan media massa dan para pemimpin di Tiongkok sepanjang sepekan sangat antusias menjelaskan kepentingan Tiongkok terhadap sabuk ekonomi jalur sutera laut ini, sekaligus menanyakan respon dan tanggung jawab jurnalis Indonesia terhadap prakarsa baru Tiongkok dalam membawa kemakmuran di negara-negara sepanjang jalur sutera laut.

Senior Counsellor Hubungan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Fujian, Dr Chu Yanli di Fuzhou menyatakan Pemerintahan  Presiden Xi Jinping berkepentingan merangkul negara-negara tetangga dalam kerja sama satu kawasan satu jalur untuk menjamin kawasan perdagangan jalur sutera laut yang melegendaris hampir 2.000 tahun silam itu kembali berjaya pada era modern.

"Ini prakarsa baru pemerintah Tiongkok yang sangat penting untuk masa depan kawasan, terutama bagi Indonesia sebagai negara tetangga terdekat sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia yang dikelilingi lautan yang luas," ujarnya.

Selanjutnya Mrs Kang, pejabat Hubungan Luar Negeri Provinsi Hainan menyebutkan, Tiongkok dan Indonesia akan merasakan manfaat dari kerja sama ekonomi dan perdagangan tersebut, karena itulah Presiden Joko Widodo dan Presiden Xi Jinping melakukan kunjungan bolak-balik ke Jakarta dan Beijing membahas rencana aksi terkait isu satu kawasan satu jalur.

Tidak kalah semangat kalangan jurnalis di Beijing yang tergabung dalam All China Journalists Association juga secara berapi-api menjelaskan kebaikan dan kesalehan dari Presiden Xi Jinping membuka jalur sutera laut bagi kemakmuran kawasan. Isu ini dipertegas Presiden Xi Jinping saat Konferensi Asia Afrika di Bandung beberapa bulan lalu.

Xiao Chunfei dari Kantor Berita Xinhua News Agency yang dekat dengan pemerintahan Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok menyatakan, gagasan pembukaan kembali jalur sutera laut sejalan dengan program Presiden Joko Widodo dari Indonesia, untuk kembali meraih kejayaan di laut seperti yang dilakukan para pendahulu kedua negara.

"Apalagi Indonesia berada di lintasan jalur sutera laut paling strategis, jelas akan mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar, tentunya juga para negara tetangga akan mendapat keuntungan yang sepadan dalam kerja sama ini," ujarnya senada yang dikemukakan para jurnalis anggota All China Journalists Association saat berdiskusi di Beijing.

Jalur sutera laut merupakan mata rantai jalur perdagangan Tiongkok Kuno mulai laut Tiongkok Selatan menyeberangi Semenanjung Malaya, Selat Sunda hingga Samudera Hindia. Marine Silk Road ini kelanjutan dari jalur sutera darat mulai dari Tiongkok, Semenanjung Balkan, Venesia hingga Turki dan lainnya..

Menanggapi hal tersebut, Ketua delegasi jurnalis Indonesia I Made Tinggal Karyawan dari Lembaga Kantor Berita Antara menjelaskan posisi dasar media di Indonesia yang mendukung inisiatif Presiden Xi Jinping dan respon mengesankan Presiden Joko Widodo terhadap kebijakan pintu terbuka Tiongkok  yang terhangat dalam sejarah hubungan kedua negara.

Menurut  jurnalis yang juga Wakil Ketua PWI Bali tersebut, kalangan jurnalis Indonesia pada umumnya sependapat, pembukaan jalur sutera laut bukan hanya akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi kawasan, tetapi sekaligus akan membangun sebuah tata peradaban dunia baru yang lebih humanis terbebas dari konflik, ketakutan dan kemiskinan.

Tiongkok dengan penduduk 1,3 miliar (terbesar di dunia) kini telah berevolusi menjadi sebuah negara super power baru di bidang ekonomi yang paling disegani masyarakat internasional dengan cadangan devisa hampir mendekati  4 triliun dolar Amerika Serikat (AS), jauh melampaui cadangan devisa AS yang hanya 700 milyar dolar AS.

Sebagai dampak pencapaian ekonominya, Tiongkok menjadi sebuah raksasa ekonomi terpenting bagi dunia yang akan mempengaruhi masa depan kawasan, karena itu kerja sama ekonomi Tiongkok dan Indonesia yang tulus atas dasar saling menguntungkan sangat penting sebagai langkah strategis, pragmatis dan realistis.

Tiongkok memiliki keunggulan permodalan, pengalaman dan Iptek yang dibutuhkan Indonesia dalam membangun infrastruktur terkait  kekebijakan pembangunan tol maritim yang digagas Presiden Joko Widodo, sementara Indonesia juga memiliki kelebihan berupa lapangan investasi yang terbuka lebar, migas, hasil laut, pertanian yang dibutuhkan Tiongkok.

Dengan demikian inisiatif Presiden Xi Jinping membuka jalur sutera laut dan kebijakan Presiden Joko Widodo membangun tol maritim sudah menyatu dalam spirit  tujuan yang sama untuk merajut  kepentingan masa kini dan masa depan, bisa dikatakan satu getaran  irama indah bagi kemakmuran dan stabilitas kawasan yang rawan bergejolak tersebut.

"Kami dalam posisi sangat jelas mendukung inisiatif  kerja sama jalur sutera tanpa kekhawatiran dan keraguan apapun, namun kami tidak dalam posisi bisa menjawab pertanyaan anda terkait respon media di negara negara lain yang terlibat klaim tumpang tindih, sebagian atau sepenuhnya atas kedaulatan wilayah Kepulauan Spratly di Laut China Selatan," ujar Tinggal Karyawan diwawancarai  media Tiongkok secara terpisah usai pertemuan.

Kalangan media di Indonesia mencatat kedua negara memiliki warisan pengalaman terbaik dalam membangun hubungan etnis, kebudayaan dan peradaban yang sudah berlangsung ratusan tahun, dan bahkan nilai nilainya sudah terinternalisasi dalam jiwa masyarakat kedua bangsa bertetangga. Hal itu sebagai modal sosial dan emosional terhebat dalam membangun kesadaran baru akan pentingnya  membangun koeksistensi damai  dalam kemakmuran bersama.

Posisi kedua negara secara geo politik dan geo strategis tidak bisa diremehkan kekuatan manapun, karena itu kedua negara harus berani memikul tanggung jawab besar sebagai mentor pembangunan ekonomi kawasan, sekaligus mampu mengatasi konflik kepentingan dan provokasi negara negara tidak bersahabat untuk membalikkan sejarah baru ini ke belakang.

Sebagai konsekuensi kerja sama, jelas akan terbangunnya komunikasi yang intensif antar negara-negara di sepanjang jalur sutera yang pada gilirannya mampu membangun sikap saling percaya dan menghargai wilayah kedaulatan masing-masing.

Kami memuji Presiden Xi Jinping yang sudah berani memikul tanggung jawab bersama dengan mengambil prakarsa dan terobosan baru tersebut dengan melihat masa depan secara lebih pragmatis dan realistis. Sikap ini akan sangat membantu masa depan kawasan dan dunia yang penuh kemakmuran dan kedamaian.

"Presiden Joko Widodo berkepentingan bekerja sama dengan Tiongkok untuk mewujudkan ambisi program tol maritimnya, jadi pemimpin kedua negara sama-sama merasakan saling memerlukan, namun faktor Tiongkok sebagai penggagas isu ini akan sangat menentukan masa depan jalur sutera itu sendiri di masa depan, demikian Made Tinggal Karyawan. (Antara)

Editor: Rusdianto

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga